Vitamin “Kekekalan” dari Jamur Tingkatkan NAD+ pada Tikus Tua lewat Saklar H₂S
Jika Anda sudah menumpuk NMN atau NR untuk menjaga kadar NAD+ Anda, sebuah senyawa yang berasal dari jamur mungkin akan menarik perhatian. Sebuah makalah baru di Cell Metabolism melaporkan bahwa ergothioneine (ET) meningkatkan NAD+ otot dan memperbaiki daya tahan treadmill pada tikus‑tua. Hal ini terjadi melalui jalur hidrogen sulfida yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Perlu ditekankan bahwa ini studi pada hewan dan sel, bukan uji klinis pada manusia.
Apa itu ergothioneine, dan mengapa disebut “vitamin kekekalan”?
Ergothioneine adalah turunan asam amino yang mengandung belerang (thione) dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Kita memerlukannya dari makanan, dan jamur adalah sumber paling kaya. Tubuh memiliki transporter khusus untuk mengangkut ergothioneine, yang menjadi alasan sebagian peneliti menamainya “vitamin kekekalan”. Evolusi biasanya tidak menciptakan pintu masuk khusus untuk molekul yang tidak berfungsi.
Senyawa ini telah lama dipelajari sebagai antioksidan dan pelindung sel. Penelitian baru ini—dari grup Milos Filipovic dan kolaborator termasuk Michael Murphy—menunjukkan bahwa ET juga berperan sebagai tuas sinyal, yang menjadi hal menarik bagi para biohacker.
Hasil pada C. elegans: umur lebih panjang, mobilitas lebih baik
Peneliti memulai dari Caenorhabditis elegans (cacing nematoda yang menjadi model utama dalam penelitian penuaan). ET memperpanjang umur dan meningkatkan mobilitas pada cacing‑tua. Cacing yang diobati juga menunjukkan ketahanan stres yang lebih baik serta penurunan biomarker terkait usia.
Temuan pada cacing merupakan langkah awal yang lazim, namun penerapannya pada mamalia tidak selalu sejalan dengan judul‑judul sensasional. Di sini, data tersebut berfungsi sebagai pijakan untuk penelitian pada tikus.
Hasil pada tikus‑tua: daya tahan, otot, dan NAD+
Pada tikus‑tua yang diberikan ET lewat air minum selama sekitar empat minggu, tim menemukan:
- Daya tahan latihan yang lebih baik – tikus berlari lebih lama dan lebih jauh di treadmill.
- Massa otot yang sedikit lebih tinggi.
- Vaskularisasi otot yang lebih besar, artinya suplai pembuluh darah ke otot meningkat.
- Kadar NAD+ otot yang lebih tinggi.
NAD+ menurun seiring bertambahnya usia dan berperan penting dalam fungsi mitokondria. Peningkatan NAD+ pada jaringan otot sejalan dengan perbaikan daya tahan. Makalah ini menekankan relevansinya terhadap sarkopenia, yaitu penurunan massa otot yang terjadi pada usia lanjut.
Saklar tersembunyi yang dijelaskan secara sederhana
Berikut rangkaian mekanisme yang dijelaskan penulis:
- CSE mendapat substrat baru. Cystathionine γ‑lyase (CSE) biasanya memproduksi hidrogen sulfida (H₂S). ET berfungsi sebagai substrat alternatif, sehingga produksi H₂S meningkat.
- H₂S menandai protein melalui persulfidasi – modifikasi kimia yang menambahkan gugus belerang pada residu sistein dan mengubah perilaku protein. Peneliti menemukan lebih dari 300 target yang dipersulfidasi.
- cGPDH diaktifkan. Salah satu target tersebut, cytosolic glycerol‑3‑phosphate dehydrogenase (cGPDH), diaktifkan oleh persulfidasi. cGPDH merupakan bagian dari sistem shuttle yang membantu meregenerasi NAD+ dari NADH di sitoplasma.
- NAD+ naik. Menurut penulis, aktivasi cGPDH adalah kontributor utama peningkatan NAD+ yang dipicu oleh ET.
Bukti kunci datang dari percobaan knockout: ketika CSE atau cGPDH dihilangkan, efek ET menghilang. Hal ini menunjukkan bahwa jalur tersebut esensial, bukan sekadar kebetulan.
Bagaimana perbandingannya dengan NMN dan NR?
NMN dan NR adalah prekursor NAD+. Mereka menyediakan bahan baku untuk jalur daur ulang NAD+, sehingga strategi mereka adalah memberikan sel lebih banyak “batu bata”.
Ergothioneine tampaknya bekerja lewat sinyal redoks, mengaktifkan enzim yang membantu mendaur ulang NAD+ alih‑alih menambah substrat. Kedua pendekatan secara teoritis dapat saling melengkapi, namun belum ada studi yang membandingkannya secara langsung. Oleh karena itu, klaim bahwa ET lebih baik, lebih buruk, atau sinergis dengan NMN/NR masih bersifat spekulatif.
Intisari praktis untuk yang penasaran
- Sumber makanan: jamur merupakan sumber utama ergothioneine, terutama jamur tiram, jamur king oyster, jamur shiitake, dan jamur porcini. Jumlah lebih kecil dapat ditemukan pada beberapa kacang, dedak oat, dan daging organ. Memasak tidak mudah menghancurkan ET.
- Dosis suplemen: produk komersial biasanya menyediakan 5–25 mg ET per hari. Studi pada manusia yang ada menggunakan dosis dalam rentang tersebut.
- Dosis pada tikus: bila dikonversi ke manusia, regimen pada tikus setara dengan ≈200–260 mg per hari, sekitar sepuluh kali lipat dosis suplemen yang biasanya dipakai. Keamanan atau efektivitas dosis setinggi itu pada manusia belum terbukti.
Catatan tegas: hanya pada hewan, belum ada bukti pada manusia
Jadilah skeptis terhadap klaim yang menganggap temuan ini sudah pasti berlaku pada manusia:
- Tidak ada data manusia – studi ini pra‑klinis pada cacing, tikus, dan sel.
- Ketidaksesuaian dosis – dosis efektif pada tikus jauh di atas dosis suplemen standar untuk manusia.
- Durasi singkat – efek jangka panjang, keamanan pada dosis tinggi, dan dampak pada harapan hidup mamalia belum diteliti.
- NAD+ otot bukan outcome klinis – kenaikan NAD+ jaringan dan daya tahan treadmill pada tikus hanyalah sinyal yang menjanjikan, bukan bukti penuaan yang lebih sehat pada manusia.
- Mekanisme bukan manfaat – jalur yang elegan menjadi alasan untuk melakukan uji klinis, bukan pengganti.
Kesimpulan
Makalah ini memberi ergothioneine sesuatu yang selama ini kurang: mekanisme konkret yang dapat diuji, menghubungkan senyawa jamur diet dengan NAD+ lewat CSE, H₂S, persulfidasi, dan cGPDH. Itu merupakan langkah nyata melampaui sekadar “antioksidan”. Mengonsumsi lebih banyak jamur adalah langkah berisiko rendah dari sudut gizi umum. Apakah ergothioneine nantinya akan terbukti sebagai intervensi NAD+ atau anti‑penuaan otot pada manusia tergantung pada uji klinis yang masih belum dilakukan.